Senin, 2 November 2026Pusat Kode Referral dan Promo
Referal.ID
Pusat Kode Referral dan Promo

Saham di Bawah Gocap Bergerak Liar, Ini Risiko bagi Investor

Oleh Jaya Purnama · Oktober 1, 2026 · 2:09 am
Dukung
Daftar Isi 3 bagian

Referal.id – Jakarta, saham di bawah gocap mencuri perhatian investor ketika pasar saham berada dalam tekanan. Pada perdagangan Senin (28/9/2026), sejumlah saham berharga di bawah Rp 50 justru melesat hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,51% ke level 6.147,86.

Perubahan batas minimum harga perdagangan menjadi salah satu pemicu utama. Kebijakan tersebut membuka ruang bagi saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 untuk bergerak lebih rendah. Selain itu, perubahan nominal kecil dapat menghasilkan pergerakan persentase yang lebih besar.

Saham di bawah gocap yang menguat

PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar. Saham TAMU naik 34,62% atau 9 poin ke level Rp 35 per saham. Kemudian, PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menguat 34,38% menjadi Rp 43.

Sementara itu, PT Mitra International Resources Tbk (MIRA), PT Pan Brothers Tbk (PBRX), dan PT PP Property Tbk (PPRO) masing-masing naik 33,33%. Kinerja tersebut berlawanan dengan pergerakan IHSG yang melemah pada hari yang sama.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, perubahan batas bawah harga saham membuat saham berharga rendah memiliki ruang pergerakan yang lebih fleksibel.

Namun, Elandry mengingatkan bahwa harga nominal yang rendah tidak otomatis menunjukkan valuasi yang murah. Investor tetap perlu menilai pertumbuhan pendapatan dan laba, arus kas, posisi utang, prospek bisnis, aksi korporasi, serta valuasi emiten.

Analis ingatkan risiko volatilitas

Menurut Elandry, investor juga perlu mengonfirmasi kenaikan harga melalui volume transaksi dan keberlanjutan akumulasi. Kenaikan yang sangat cepat tanpa dukungan perubahan fundamental atau likuiditas memadai lebih mencerminkan momentum trading.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko volatilitas. Harga dapat bergerak tajam dalam waktu singkat, sehingga investor perlu memahami potensi keuntungan sekaligus risiko kerugian sebelum mengambil keputusan transaksi.

Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project William Hartanto menilai perubahan aturan harga minimum menjadi salah satu faktor yang meningkatkan minat terhadap saham-saham berharga rendah. Modal transaksi yang lebih kecil turut membuat kelompok saham ini menarik bagi sebagian pelaku pasar.

Selain itu, perubahan harga dalam nominal kecil dapat menghasilkan persentase keuntungan yang relatif besar. William menyebut pasar masih beradaptasi dan saham di bawah level gocap berpotensi semakin diminati karena peluang imbal hasil secara persentase terlihat lebih tinggi.

Tekanan jual juga muncul

Fenomena tersebut tidak hanya terlihat dari kenaikan harga. Sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 juga mengalami tekanan jual setelah memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), misalnya, turun 14% menjadi Rp 43. Saham PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) juga masing-masing merosot 14% ke level Rp 43.

William menilai tekanan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih menyesuaikan diri dengan mekanisme baru. Untuk saham berharga rendah, pergerakan harga juga tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental emiten.

Elandry juga menilai penurunan GOTO hingga LPKR tidak serta-merta menunjukkan memburuknya fundamental perusahaan. Perubahan batas minimum harga justru memberi ruang bagi proses pembentukan harga atau price discovery berlangsung lebih leluasa ketika tekanan jual meningkat.

Dengan demikian, lonjakan saham di bawah gocap tidak semata-mata terjadi karena harga yang murah. Aturan baru membuka ruang volatilitas yang sebelumnya terbatas di level Rp 50. Situasi ini menarik bagi pelaku momentum trading, tetapi sekaligus menuntut investor lebih disiplin dalam menilai risiko, likuiditas, dan kondisi fundamental setiap emiten.

Tag:

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.