Senin, 2 November 2026Pusat Kode Referral dan Promo
Referal.ID
Pusat Kode Referral dan Promo

Penutupan TPA Piyungan Berdampak, Pengangkut Sampah Swasta di Yogyakarta Kurangi Pelanggan

Oleh Jaya Purnama · Oktober 1, 2026 · 8:41 am
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

Referal.id – Yogyakarta, penutupan permanen Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berdampak pada keberlangsungan usaha pengangkutan sampah swasta. Keterbatasan akses ke tempat pembuangan membuat para pelaku usaha harus mengurangi pelanggan dan mencari alternatif pengolahan sampah.

Ketua Paguyuban Eker-Eker Golek Menir, Sodik Murwanto, mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat kondisi tersebut. Ia terpaksa mengurangi jumlah pelanggan dari semula 500 menjadi 200 karena tidak sanggup menangani seluruh sampah secara mandiri.

Menurut Sodik, keterbatasan fasilitas pembuangan menyulitkan para pengangkut sampah swasta untuk mempertahankan layanan. Selain itu, sebagian pelaku usaha harus menanggung beban operasional sambil mencari cara agar sampah yang mereka kumpulkan tidak menumpuk.

Sodik menyampaikan kondisi tersebut dalam laporan yang dikutip dari Tribun Jogja pada Sabtu (10/10/2026). Ia menjelaskan bahwa pengurangan pelanggan menjadi langkah untuk menyesuaikan volume sampah dengan kemampuan pengolahan yang tersedia.

Penutupan TPA Piyungan Memaksa Pengangkut Mengurangi Pelanggan

Penutupan TPA Piyungan menjadi tantangan besar bagi usaha jasa pengangkutan sampah swasta di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya. Sebelumnya, para pelaku usaha mengandalkan fasilitas pembuangan tersebut untuk menangani sampah dari pelanggan rumah tangga maupun kegiatan usaha.

Namun, setelah akses ke tempat pembuangan terbatas, para pengangkut harus mencari solusi sendiri. Sodik mengungkapkan bahwa ia tidak lagi mampu melayani 500 pelanggan seperti sebelumnya karena kapasitas pengolahan mandiri yang terbatas.

Akibatnya, ia mempertahankan layanan untuk sekitar 200 pelanggan. Langkah tersebut membantu menyesuaikan jumlah sampah yang masuk dengan kemampuan penanganan yang tersedia.

Sodik juga menegaskan bahwa keterbatasan tempat pembuangan berdampak langsung pada pendapatan. Semakin sedikit pelanggan yang dapat ia layani, semakin besar pula tekanan terhadap keberlangsungan usaha pengangkutan sampahnya.

Akses ke Tempat Penampungan Alternatif Masih Terbatas

Para anggota Paguyuban Eker-Eker Golek Menir sempat berupaya mengakses tempat penampungan alternatif milik Pemerintah Daerah DIY. Akan tetapi, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena fasilitas itu memprioritaskan armada pemerintah daerah.

Sodik menjelaskan bahwa kebijakan tersebut membuat pengangkut sampah swasta harus mencari pilihan lain. Mereka kemudian menyesuaikan metode penanganan sampah berdasarkan kemampuan dan fasilitas masing-masing.

Sebagian pelaku usaha mengolah sampah secara mandiri. Sementara itu, anggota lainnya bekerja sama dengan warga atau mencari tempat penampungan untuk residu yang tersisa setelah proses pengolahan.

Meski begitu, tidak semua pengangkut sampah memiliki sarana dan kapasitas yang memadai. Pengolahan mandiri membutuhkan kemampuan teknis, ruang, serta pengelolaan yang sesuai agar sampah tidak menimbulkan persoalan baru di lingkungan sekitar.

Karena itu, keterbatasan akses ke fasilitas pembuangan memaksa para pelaku usaha membatasi volume sampah yang mereka kumpulkan. Mereka harus menyeimbangkan jumlah pelanggan dengan kapasitas pengolahan agar kegiatan operasional tetap berjalan.

Jumlah Anggota Paguyuban Menyusut

Dampak penutupan TPA Piyungan juga terlihat dari berkurangnya jumlah anggota paguyuban pengangkut sampah swasta. Menurut Sodik, paguyuban yang sebelumnya memiliki puluhan armada dan melayani wilayah Kota Yogyakarta, Bantul, hingga Sleman kini hanya menyisakan 50 orang anggota.

Sebagian anggota memilih meninggalkan usaha pengangkutan sampah karena tidak mampu menanggung biaya operasional. Keterbatasan tempat pembuangan membuat mereka kesulitan menjalankan layanan secara berkelanjutan.

Penyusutan jumlah anggota tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya menyangkut pengelolaan lingkungan. Masalah ini juga memengaruhi keberlangsungan usaha swasta yang selama ini membantu masyarakat membuang sampah dari rumah maupun tempat usaha.

Di sisi lain, berkurangnya jumlah penyedia jasa berpotensi membatasi pilihan layanan pengangkutan bagi masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pelanggan yang mengandalkan jasa swasta untuk menangani sampah secara rutin.

Pengelolaan Sampah Membutuhkan Alternatif Berkelanjutan

Situasi setelah penutupan TPA Piyungan memperlihatkan pentingnya fasilitas pengolahan sampah yang memadai. Ketika tempat pembuangan utama tidak lagi dapat diakses, pelaku usaha membutuhkan alternatif yang mampu menampung residu dan mendukung kegiatan pengangkutan.

Selain itu, pengurangan sampah sejak dari sumbernya dapat membantu menekan volume yang harus diangkut dan diolah. Pemilahan sampah organik, material yang dapat didaur ulang, serta residu menjadi salah satu langkah yang dapat mendukung pengelolaan secara lebih terarah.

Namun, upaya tersebut memerlukan dukungan berbagai pihak. Pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha perlu menyesuaikan peran masing-masing agar pengelolaan sampah tetap berjalan tanpa membebani satu pihak secara berlebihan.

Bagi pengangkut sampah swasta, kepastian akses ke fasilitas pengolahan dan penampungan menjadi faktor penting untuk mempertahankan layanan. Tanpa solusi yang sesuai, mereka harus terus membatasi pelanggan atau mencari pekerjaan lain untuk menutup kebutuhan hidup.

Penutupan TPA Piyungan Menekan Usaha dan Layanan Sampah

Pengalaman Sodik Murwanto menggambarkan dampak nyata penutupan TPA Piyungan terhadap usaha pengangkutan sampah swasta. Ia mengurangi jumlah pelanggan dari 500 menjadi 200 karena tidak mampu mengolah seluruh sampah secara mandiri.

Sementara itu, jumlah anggota Paguyuban Eker-Eker Golek Menir kini tersisa 50 orang. Sebagian anggota bahkan memilih beralih profesi karena keterbatasan tempat pembuangan dan tingginya beban operasional.

Dengan demikian, penyelesaian persoalan sampah di Yogyakarta membutuhkan langkah yang tidak hanya berfokus pada pengangkutan. Ketersediaan fasilitas pengolahan, pengurangan sampah dari sumbernya, dan dukungan bagi pelaku usaha juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan layanan kepada masyarakat.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.